Martha Tilaar menjalani hidup dengan penuh keajaiban kuasa
Tuhan. Pernah 'divonis' mandul, namun melahirkan anak pertama di usia 42 tahun
setelah 16 tahun menikah. Dia pun membangun imperium industri jamu dan
kosmetika berkelas dunia, bermula dari grasi rumah ayahnya. Dari sebuah salon
kecantikan sederhana, berkembang menjadi Martha Tilaar Group (MTG), sebuah grup
usaha industri jamu dan kosmetika dengan produk merek dagang Sariayu Martha
Tilaar. Grup usaha ini memayungi 11 anak perusahaan dan mempekerjakan sekitar 6.000
karyawan. Martha
Tilaar lahir di
Gombong - Kebumen, Jawa Tengah, 4 September 1937, Pertumbuhan intelektualnya
lambat dan tidak pernah mendapat ranking di sekolah. Walau memiliki kemampuan
akademis di bawah rata-rata, oleh Sang Ibu, Martha diajarkan cara hidup how to
solve the problem. Sejak kecil, Martha dicap sebagai anak yang bandel dan tidak
suka merawat diri, jika dibandingkan saudaranya yang lain. Tingkah laku dan
cara berpakaiannya seperti anak lelaki. Hobi berenang membuat kulit Martha
tidak sehat, rambut yang panjang memerah semua, wajah pun tak karuan. Ibunya
seringkali menegur mengingatkan Martha agar lebih peduli merawat diri. Apalagi
Martha, yang kuliah mengambil Jurusan Sejarah IKIP Negeri Jakarta.
Lulus dari IKIP Jakarta, Martha
menikah dengan Alex Tilaar pada tanggal 4 September 1963. Istri pendidik Prof.
Dr. H.A.R Tilaar, ibu dari empat orang anak Bryan Emil Tilaar, Pinkan Tilaar,
Wulan Tilaar, Kilala Tilaar dan nenek dari beberapa orang cucu, ini
menyempatkan diri mengambil kuliah kecantikan dan lulus dari Academy of Beauty
Culture, Bloomington, Indiana, AS, saat mengikuti suami tugas belajar. Dia telah
membuat kecantikan dan keayuan wanita Indonesia terpelihara.
Keberhasilan
Martha Tilaar Menjadi Pengusaha Papan Atas
Titik-picu 1987
Pada tahun 1987, secara cerdik dan unik ia
mempopulerkan "Senja di Sriwedari" sebagai trend tata rias baru,
sebuah ide yang diilhami oleh kekayaan alam dan budaya Indonesia. Pemerhati tata rias sangatlah paham benar
akan apa yang disebut dengan konsep Gaya Warna Disainer (1998) sebuah tata rias
yang mengambil unsur budaya Jawa Barat dan Kalimantan, Sumatera Bergaya (1989)
dari Sumatera, Puri Prameswari (1990) mengambil dari etnik Cirebon dan Bali,
Senandung Nyiur (1991) dari Pantai Indonesia, Riwayat Asmat (1992) dari Irian
Jaya/Papua, Rama-Rama Toraja (1993), serta konsep-konsep dari berbagai daerah
lain seperti Banda/Ambon, Jakarta, Aceh. Dan, puncaknya adalah trend warna
Pusako Minang dari Minangkabu. Berdasarkan Strategi pendekatan etnik Martha Tilaar berhasil
menjalin hubungan emosional dengan konsumen, bahkan berhasil
menyelamatkan biduk
bisnisnya dari hantaman krisis ekonomi. Sebab dengan konsep baru itu Martha
Tilaar berhasil meraih penjualan besar bahkan bisnisnya pernah bertumbuh
hingga 400 persen.
Perjalanan bisnis Martha Tilaar tidak selamanya mulus.
Ia pernah mengalami jatuh bangun atau pasang-surut usaha. Walau bergemilang sukses
dan bersohor nama di negeri asing, Martha Tilaar justru pernah merasakan sebuah
kepahitan di tanah air.
Itu terjadi tatkala ia hendak menyewa dan membuka
gerai jamu dan kosmetika di beberapa mall dan plaza terkemuka di Jakarta,
persis di pusat perkantoran dan rumah tinggal kalangan berduit. Ia ditolak
menyewa tempat. "Dulu kalau saya mau sewa tempat diusir. Mereka hanya mau
menjual produk branded. Dibilang standar plazanya akan turun karena dianggap
tidak ada image," kata Martha Tilaar, yang dalam hidup tak pernah mau
menyerah apalagi berputus asa. Respon
atas penolakan itu Martha Tilaar menyegerakan mendirikan Puri Ayu Martha
Tilaar, sejak Mei 1995, sebagai gerai jamu dan kosmetika Sariayu sekaligus
berfungsi sebagai pusat pelayanan konsumen. Gerai dan pusat pelayanan konsumen
ini berada dalam bendera usaha PT Martha Beauty Galery. Gerai Puri Ayu Martha
Tilaar pertamakali berdiri di Graha Irama, di kawasan elit Kuningan, Jakarta
Selatan, lalu berkembang pesat memasuki kota-kota besar lain di Indonesia.
Investasi Riset
Martha Tilaar mempunyai komitmen tinggi membangun
industri kosmetika. Ia adalah investasi besar di bidang riset dan pengembangan
(R&D). Ia mau mengirim staf ahli farmasinya belajar ke luar negeri, atau
mengikuti berbagai pameran di luar negeri. Berdasar komitmen kuat itu Martha
ingin menunjukkan kepada bangsa-bangsa di dunia bahwa Indonesia bisa unjuk diri
dan tidaklah ketinggalan di bidang kosmetika dan tata rias.
Martha Tilaar perlahan-lahan berhasil mengurangi ketergantungan kandungan bahan baku impor, berganti dengan bahan baku lokal di setiap produknya. Hasil lain lagi, ini yang lebih mencengangkan, pada bulan Juli 2002 Sekjen PBB Kofi Annan mengundang Martha Tilaar hadir dalam forum Global Compact, di New York, AS.
Martha Tilaar perlahan-lahan berhasil mengurangi ketergantungan kandungan bahan baku impor, berganti dengan bahan baku lokal di setiap produknya. Hasil lain lagi, ini yang lebih mencengangkan, pada bulan Juli 2002 Sekjen PBB Kofi Annan mengundang Martha Tilaar hadir dalam forum Global Compact, di New York, AS.
mengangkat ulang komitmennya yang tinggi terhadap
produk lokal dalam nada berbeda. Martha sangat menyayangkan betapa
produk-produk lokal yang selama ini diklaim sebagai warisan budaya, seperti
rendang masakan Padang, atau songket kain dari Pelembang, itu ternyata sudah
didaftar-patenkan oleh tetangga negeri serumpun Malaysia. Ia pun khawatir akan
jamu, yang dari zaman kapanpun kita merasa itu milik kita, keburu dipatenkan
pihak asing.
Martha mengangkat ulang komitmennya yang tinggi terhadap
produk lokal dalam nada berbeda. Martha sangat menyayangkan betapa
produk-produk lokal yang selama ini diklaim sebagai warisan budaya, seperti
rendang masakan Padang, atau songket kain dari Pelembang, itu ternyata sudah
didaftar-patenkan oleh tetangga negeri serumpun Malaysia. Ia pun khawatir akan
jamu, yang dari zaman kapanpun kita merasa itu milik kita, keburu dipatenkan
pihak asing.
perkembangan Martha Tilaar Group dari masa ke
masa:
§
Tahun 1970. DR. Martha
Tilaar memulai usahanya di garasi kediaman orangtuanya, Yakob Handana, di
Menteng, Jakarta Pusat.
§
Tahun 1972. Pembukaan
salon kecantikan kedua DR. Martha Tilaar, yaitu Martha Griya Salon di Menteng.
Di salon inilah, untuk pertama kalinya perawatan kecantikan tradisional
berbasis tanaman herbal dan bisnis kecantikan dimulai.
§
Tahun 1977. PT Martina
Berto didirikan oleh DR. Martha Tilaar bersama mitra usaha yaitu Bernard
Pranata (almarhum) dan Theresia Harsini Setiady.
§
Tahun 1977.
Bekerjasama dengan Theresia Harsini Setiady yang merupakan pendiri Kalbe Group,
PT Martina Berto meluncurkan brand Sariayu sebagai produk
kecantikan dan jamu modern.
§
Tahun 1981. PT Martina
Berto mendirikan pabriknya sendiri di kawasan industri Pulogadung.
§
Tahun 1983. PT Martina
Berto kembali mendirikan pabrik keduanya di Pulogadung.
§
Tahun 1983. Di tahun
yang sama, PT SAI Indonesia yang sebelumnya adalah PT Sari Ayu Indonesia
didirikan untuk mendukung PT Martina Berto dalam mendistribusikan produk-produk
kosmetiknya.
§
Tahun 1988-1990. PT Martina Berto melahirkan merek-merek kosmetika baru
seperti Cempaka, Jamu Martina, Pesona, Biokos Martha Tilaar, Caring Colours
Martha Tilaar, dan Belia Martha Tilaar.
§
Tahun 1993-1995. Terjadi
proses akuisisi oleh sejumlah perusahaan ke dalam PT Martina Berto.
§ Tahun 2001-2009. PT Martina Berto menambahkan merek-merek baru di segmen pasar berbeda, yaitu Professional Artist Cosmetics (PAC), Dewi Sri Spa, Jamu Garden dan sebagainya.
§
Tahun 1996. PT Martina
Berto menjadi pabrik kosmetika pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikat
mutu ISO 9001.
§
Tahun 1999. PT Martina
Berto membeli saham Kalbe Group, dan sejak saat itu Kalbe Group sepenuhnya berada
di bawah manajemen Martha Tilaar Group.
§
Tahun 2000. PT Martina
Berto mendapatkan sertifikat ISO 14001.
§
Tahun 2010. Martha
Tilaar Group memasuki usia 40 tahun.
§
Tahun 2011. PT Martina
Berto menjadi PT Martina Berto Tbk.
§
Tahun 2011. Martha
Tilaar Group terpilih menjadi salah satu dari 55 perusahaan dunia yang menjadi
anggota Global Conpact Lead PBB di Davos, Switzerland.
§
Tahun 2012. PT Martina
Berto Tbk menerima penghargaan sebagai Pioneer in Technology dari Kementrian
Industri, yang diserahkan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
§
Tahun 2012. PT Martina
Berto Tbk mendapat penghargaan dalam Asia Responsible Entrepreneurship Awards
2012 untuk kategori Green Leadership.
Kini, Martha
Tilaar Group terdiri atas PT Martina Berto Tbk, PT
Cedefindo (strategi pemasaran dan produksi), PT SAI Indonesia(distributor
produk-produk Martha Tilaar Group), PT Martha Beauty Gallery (pelayanan
konsultasi dan pendidikan kecantikan, seperti Puspita Martha School of
Beauty), Martha Tilaar Spa, Cipta Busana, Art
and Beauty Martha Tilaar, PT Cantika Puspa Pesona (manajemen
waralaba domestik dan internasional untuk Martha Tilaar Salon Day Spa, Easter
Garden Spa Martha Tilaar), PT Creative Style (perusahaan
agensi periklanan), PT Kreasi Boga (agensi tenaga kerja),
dan PT Mahligai Citra Bangsa (jasa wedding organizer dan produksi
majalah).
Pilar
Terinspirasi
oleh nilai dan budaya Timur, Founder dan Chairwoman Martha Tilaar Group, DR.
(H.C.) Martha Tilaar, selalu memiliki semangat untuk terus menggali kekayaan
alam dan budaya Indonesia untuk mempercantik wanita Indonesia dan dunia.
Semangat tersebut dituangkan dalam 4 Pilar Martha Tilaar Group yang menjadi
landasan dalam setiap kegiatan grup perusahaan dan setiap unit bisnis yang
dijalankan Martha Tilaar Group.
Beauty Culture
Martha Tilaar Group begitu peduli
pada kelestarian budaya Indonesia, dan kepedulian ini diwujudkan lewat
penciptaan rangkaian warna tata rias Trend Warna Sariayu setiap tahun. Sejak
tahun 1987, Trend Warna Sariayu telah menjadi barometer dan kiblat tata rias
wanita Indonesia.
Selain
dengan hadirnya Trend Warna Sariayu, peran serta dan dukungan Martha Tilaar
Group dalam industri kreatif dan budaya Indonesia, salah satunya seperti yang
terlihat pada ajang Jember Fashion Carnaval (JFC) dan
penggunaan konsep SPA Indonesia sebagai sarana melepas lelah
serta menyegarkan pikiran dan tubuh, menjadi wujud penerapan Beauty
Culture.
Beauty Education
Martha
Tilaar Group yakin, berbagi ilmu pada masyarakat yang tertarik pada dunia
kecantikan menjadi salah satu upaya mempercantik wanita Indonesia dan dunia.
Karena itu, Martha Tilaar Group terus berbagi pendidikan kecantikan dengan
mendirikan lembaga belajar, mengadakan beauty class, hingga
bekerjasama dengan instansi pendidikan dan pemerintah dalam memperluas wawasan
masyarakat, khususnya wanita Indonesia, mengenai kecantikan alami.
Puspita Martha
International Beauty School, diharapkan tidak hanya dapat menciptakan tenaga terampil profesional yang
mampu menghasilkan pekerjaan bagi dirinya sendiri, tetapi juga mampu
menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.Beauty Class yang
meliputi langkah demi langkah tata rias yang baik dan benar, motivasi,
kepribadian, tata busana, serta jiwaenterepreneurship. Martha Tilaar
Group juga bekerjasama dengan Universitas Indonesia mendirikan Magister
S2 Herbal UIagar Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam terbesar
kedua setelah Brazil memiliki industri herbal yang maju dan menghasilkan devisa
negara. Dan sejak tahun 2007 menyelenggarakan Martha Tilaar Innovatin
Center (MTIC) Award yang bekerjasama dengan Kementrian Riset dan
Teknologi dan didukung oleh Sariayu, yaitu sebuah penghargaan bagi kegiatan
penelitian dan karya tulis mengenai riset berbahan alam yang bermanfaat bagi
dunia kecantikan dan kesehatan, yang tetap memperhatikan prinsip-prinsip ramah
lingkungan.
Beauty Green
Kecantikan
sejati terpancar dari dalam hati. Dan salah satu wujud hati yang cantik adalah
hati yang memiliki kepedulian pada lingkungan sekitar. Meyakini hal tersebut,
Martha Tilaar Group pun berkomitmen untuk ikut menjaga dan melestarikan
lingkungan hijau untuk kehidupan yang lebih baik denngan membangun Kampoeng
Djamoe Organik (KaDO) pada tahun 1997.
KaDO merupakan sebuah lahan konservasi
bagi tanaman obat, kosmetik, dan aromatik (TOKA) khas Indonesia yang dibangun
di atas lahan hijau seluas 10 hektar di tengah kawasan industri Cikarang.
Langkah visioner DR. (H.C.) Martha Tilaar terhadap lingkungan ini mendapat
perhatian dari PBB dan mendapatkan pernghargaan dari United Nation
Global Compact. Tidak hanya menjadi tempat wisata yang dapat dikunjungi
masyarakat, KaDO juga memberikan Pelatihan Petani Organik Seluruh
Indonesia dari seluruh provinsi Indonesia dan membekali petani dengan
pendidikan dan praktek langsung mengenai organic farming, mulai dari pengolahan
tanah, pembibitan, panen, hingga produksi dan pendistribusiannya.
Martha Tilaar
Group juga mengimplementasikan Green Science. Green Science merupakan
sebuah konsep dari produk Sariayu Putih Langsat yang mencakup 4 hal, yang
memperhatikan kelestarian lingkungan, yaitu Green Resources (penggunaan
bahan dasar alami), Green Development (proses pengembangan
ramah lingkungan), Green Process ( proses produksi yang aman,
efisien, dan ramah lingkungan), dan Green Output (hasil produk
yang aman dan ramah lingkungan).
Martha
Tilaar Group juga berkomitmen mengajak masyarakat untuk turut melakukan Pelestarian
Bumi Bersama WWF Indonesia, di mana untuk setiap pembelian produk Sariayu
Trend Warna, konsumen turut berkontribusi dalam pelestarian alam Indonesia.
Empowering
Woman
Martha Tilaar Group memiliki program
pemberdayaan wanita lewat beragam dukungan dan pelatihan, diantaranya melalui
program Jamu Gendong yang memberi pelatihan bagi para wanita
yang berprofesi sebagai penjual jamu gendong, programWanita Terampil Mandiri yang
memberi pelatihan bagi para wanita di daerah pasca bencana, program Miss
Indonesia yang merupakan ajang pencarian role model bagi
generasi muda yang cantik, cerdas, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi,
serta program Balisari Spa Training Center yang merupakan
pusat pelatihan terapis spa profesional di kawasan Kuta, Bali, yang bertujuan
memberdayakan wanita muda agar terhindar dari women trafficking yang
banyak terjadi di daerah miskin dan tertinggal.
NET - I3
Martha
Tilaar Group mengembangkan manajemen perusahaan sesuai dengan fungsinya sebagai
"Blanket Corporate Brand",
yang menciptakan NET-I3. NET merupakan singkatan dari Natural (Alami), Eastern (Ketimuran),
dan Technology (Teknologi), sedangkan I3 adalah singkatan
untuk Icon (Ikon), Innovation (Inovasi), dan Intitution (Institusi).
Konsep NET terfokus
pada keunikan brand dan konsep pengembangan bisnis yang
dipengaruhi oleh nilai-nilai adat ketimuran dan didesain dengan penggunaan
teknologi modern. Perusahaan ini yakin bahwa pengimplementasian konsep NET akan
memberikan keuntungan dalam meningkatkan keuntungan kompetitif baik pada
industri kosmetik lokal maupun global. Lebih dari itu, secara luas konsep ini
bertujuan untuk memberi manfaat pada para pemegang saham, karyawan, konsumen,
dan lingkungan.
Konsep I3
terfokus pada tiga elemen dasar masing-masing produk Martha Tilaar, yaitu Ikon,
Inovasi, dan Institusi.
Ikon mengacu pada brand positioning Martha Tilaar sebagai ikon kecantikan, di mana citra DR. (H.C.) Martha Tilaar sebagai ikon wanita dalam dunia kecantikan tradisional dan mode, sekaligus sebagai seorang wanita karier serta tokoh terkemuka dalam dunia pendidikan dan kegiatan sosial diharapkan dapat menginspirasi masyarakat Indonesia.
Inovasi mengacu pada kemampuan melanjutkan pengembangan produk dan pelayanan dengan lebih baik, seperti yang telah dibuktikan oleh Martha Tilaar Group dalam menjaga kestabilan pemenuhan kepuasan terhadap lini produk di antara industri kosmetik, seperti Sariayu Martha Tilaar, Biokos Martha Tilaar, dan Dewi Sri Spa – Oil of Jawa Martha Tilaar.
Ikon mengacu pada brand positioning Martha Tilaar sebagai ikon kecantikan, di mana citra DR. (H.C.) Martha Tilaar sebagai ikon wanita dalam dunia kecantikan tradisional dan mode, sekaligus sebagai seorang wanita karier serta tokoh terkemuka dalam dunia pendidikan dan kegiatan sosial diharapkan dapat menginspirasi masyarakat Indonesia.
Inovasi mengacu pada kemampuan melanjutkan pengembangan produk dan pelayanan dengan lebih baik, seperti yang telah dibuktikan oleh Martha Tilaar Group dalam menjaga kestabilan pemenuhan kepuasan terhadap lini produk di antara industri kosmetik, seperti Sariayu Martha Tilaar, Biokos Martha Tilaar, dan Dewi Sri Spa – Oil of Jawa Martha Tilaar.
Institusi
mengacu pada kesuksesan Martha Tilaar Group sebagai brand kosmetik tradisional
terdepan dengan profesionalisme tinggi, serta kualitas produk dan layanan yang
terjamin.
Natural
“Kecantikan
alami seseorang seperti bunga yang
meletupkan keunikan dan keindahan dari dalam, menciptakan penampilan
elegan yang sempurna, dan memberi energi bagi dunia di sekitarnya.
Nilai
Ketimuran “ Eastern Value”
“Kepulauan
Indonesia kaya dengan keragaman flora yang saling terintegrasi dengan kebudayaan eksotis dan peradaban kuno.
Teknologi
“Penggunaan
teknologi modern mendukung para tenaga ahli dalam menuangkan beragam ide dan
inovasi dalam penciptaan desain dan produk – produk kosmetik yang higienis dan
berkualitas.
Filosofi Djitu
Manajemen
Martha Tilaar Group, yaitu PT Martina Berto Tbk memiliki sebuah sebuah filosofi
kebijakan yang dikenal dengan sebutan DJITU di dalam perusahannya. DJITU
merupakan sebuah akronim dari Disiplin, Jujur, Inovatif, Tekun, dan Ulet.
Filosofi ini berlaku bagi segenap karyawan untuk mencapai visi dan misi yang
telah digariskan oleh perusahaan.
Disiplin
Menjadi
sebuah sikap yang menunjukkan komitmen setiap karyawan dalam menepati waktu
demi efisiensi jalannya setiap kegiatan dalam perusahaan.
Jujur
Dari sikap
jujur para karyawannya, sebuah perusahaan dapat tumbuh menjadi sebuat
perusahaan yang sehat dan mampu terus berkembang.
Inovatif
Karyawan
dengan pola pikir yang inovatif dan sikap yang proaktif adalah aset berharga
bagi perusahaan, yang penting untuk terus dijaga. Dari pola pikir inovatif
inilah akan tercipta terobosan-terobosan baru dalam perusahaan.
Tekun
Sikap tekun
dan selalu fokus dalam melakukan dan mengembangkan hal-hal yang berkaitan
dengan tanggung jawab akan memungkinkan pencapaian target perusahaan sesuai
waktu yang telah ditentukan, dan ketekunan juga akan meningkatkan kualitas
karyawan.
Ulet
Mau bekerja keras, berkomitmen, dan
gigih dalam menggali setiap tugas yang belum terselesaikan menunjukkan bahwa
seseorang memiliki rasa tanggung jawab pada pekerjaannya. Hal ini penting bagi
keberlangsungan dan kemajuan perusahaan.
Sumber
Pustaka