Rabu, 08 Januari 2014

Strategi CEO Martha Tilaar Menuju Kesuksesan



Martha Tilaar  menjalani hidup dengan penuh keajaiban kuasa Tuhan. Pernah 'divonis' mandul, namun melahirkan anak pertama di usia 42 tahun setelah 16 tahun menikah.  Dia pun membangun imperium industri jamu dan kosmetika berkelas dunia, bermula dari grasi rumah ayahnya. Dari sebuah salon kecantikan sederhana, berkembang menjadi Martha Tilaar Group (MTG), sebuah grup usaha industri jamu dan kosmetika dengan produk merek dagang Sariayu Martha Tilaar. Grup usaha ini memayungi 11 anak perusahaan dan mempekerjakan sekitar 6.000 karyawan. Martha Tilaar lahir di Gombong - Kebumen, Jawa Tengah, 4 September 1937, Pertumbuhan intelektualnya lambat dan tidak pernah mendapat ranking di sekolah. Walau memiliki kemampuan akademis di bawah rata-rata, oleh Sang Ibu, Martha diajarkan cara hidup how to solve the problem. Sejak kecil, Martha dicap sebagai anak yang bandel dan tidak suka merawat diri, jika dibandingkan saudaranya yang lain. Tingkah laku dan cara berpakaiannya seperti anak lelaki. Hobi berenang membuat kulit Martha tidak sehat, rambut yang panjang memerah semua, wajah pun tak karuan. Ibunya seringkali menegur mengingatkan Martha agar lebih peduli merawat diri. Apalagi Martha, yang kuliah mengambil Jurusan Sejarah IKIP Negeri Jakarta.
 Lulus dari IKIP Jakarta, Martha menikah dengan Alex Tilaar pada tanggal 4 September 1963. Istri pendidik Prof. Dr. H.A.R Tilaar, ibu dari empat orang anak Bryan Emil Tilaar, Pinkan Tilaar, Wulan Tilaar, Kilala Tilaar dan nenek dari beberapa orang cucu, ini menyempatkan diri mengambil kuliah kecantikan dan lulus dari Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, AS, saat mengikuti suami tugas belajar. Dia telah membuat kecantikan dan keayuan wanita Indonesia terpelihara.


Keberhasilan Martha Tilaar Menjadi Pengusaha Papan Atas

Titik-picu 1987
Pada tahun 1987, secara cerdik dan unik ia mempopulerkan "Senja di Sriwedari" sebagai trend tata rias baru, sebuah ide yang diilhami oleh kekayaan alam dan budaya Indonesia.  Pemerhati tata rias sangatlah paham benar akan apa yang disebut dengan konsep Gaya Warna Disainer (1998) sebuah tata rias yang mengambil unsur budaya Jawa Barat dan Kalimantan, Sumatera Bergaya (1989) dari Sumatera, Puri Prameswari (1990) mengambil dari etnik Cirebon dan Bali, Senandung Nyiur (1991) dari Pantai Indonesia, Riwayat Asmat (1992) dari Irian Jaya/Papua, Rama-Rama Toraja (1993), serta konsep-konsep dari berbagai  daerah lain seperti Banda/Ambon, Jakarta, Aceh. Dan, puncaknya adalah trend warna Pusako Minang dari Minangkabu. Berdasarkan Strategi pendekatan etnik Martha Tilaar berhasil menjalin hubungan emosional dengan konsumen, bahkan berhasil menyelamatkan biduk  bisnisnya dari hantaman krisis ekonomi. Sebab dengan konsep baru itu Martha Tilaar berhasil meraih penjualan besar bahkan bisnisnya pernah bertumbuh hingga 400 persen.




Perjalanan bisnis Martha Tilaar tidak selamanya mulus. Ia pernah mengalami jatuh bangun atau pasang-surut usaha. Walau bergemilang sukses dan bersohor nama di negeri asing, Martha Tilaar justru pernah merasakan sebuah kepahitan di tanah air.
Itu  terjadi tatkala ia hendak menyewa dan membuka gerai jamu dan kosmetika di beberapa mall dan plaza terkemuka di Jakarta, persis di pusat perkantoran dan rumah tinggal kalangan berduit. Ia ditolak menyewa tempat. "Dulu kalau saya mau sewa tempat diusir. Mereka hanya mau menjual produk branded. Dibilang standar plazanya akan turun karena dianggap tidak ada image," kata Martha Tilaar, yang dalam hidup tak pernah mau menyerah apalagi berputus asa.  Respon atas penolakan itu Martha Tilaar menyegerakan mendirikan Puri Ayu Martha Tilaar, sejak Mei 1995, sebagai gerai jamu dan kosmetika Sariayu sekaligus berfungsi sebagai pusat pelayanan konsumen. Gerai dan pusat pelayanan konsumen ini berada dalam bendera usaha PT Martha Beauty Galery. Gerai Puri Ayu Martha Tilaar pertamakali berdiri di Graha Irama, di kawasan elit Kuningan, Jakarta Selatan, lalu berkembang pesat memasuki kota-kota besar lain di Indonesia.

Investasi Riset

Martha Tilaar mempunyai komitmen tinggi membangun industri kosmetika. Ia adalah investasi besar di bidang riset dan pengembangan (R&D). Ia mau mengirim staf ahli farmasinya belajar ke luar negeri, atau mengikuti berbagai pameran di luar negeri. Berdasar komitmen kuat itu Martha ingin menunjukkan kepada bangsa-bangsa di dunia bahwa Indonesia bisa unjuk diri dan tidaklah ketinggalan di bidang kosmetika dan tata rias.
Martha Tilaar perlahan-lahan berhasil mengurangi ketergantungan kandungan bahan baku impor, berganti dengan bahan baku lokal di setiap produknya. Hasil lain lagi, ini yang lebih mencengangkan, pada bulan Juli 2002 Sekjen PBB Kofi Annan mengundang Martha Tilaar hadir dalam forum Global Compact, di New York, AS. 


mengangkat ulang komitmennya yang tinggi terhadap produk lokal dalam nada berbeda. Martha sangat menyayangkan betapa produk-produk lokal yang selama ini diklaim sebagai warisan budaya, seperti rendang masakan Padang, atau songket kain dari Pelembang, itu ternyata sudah didaftar-patenkan oleh tetangga negeri serumpun Malaysia. Ia pun khawatir akan jamu, yang dari zaman kapanpun kita merasa itu milik kita, keburu dipatenkan pihak asing.
Martha mengangkat ulang komitmennya yang tinggi terhadap produk lokal dalam nada berbeda. Martha sangat menyayangkan betapa produk-produk lokal yang selama ini diklaim sebagai warisan budaya, seperti rendang masakan Padang, atau songket kain dari Pelembang, itu ternyata sudah didaftar-patenkan oleh tetangga negeri serumpun Malaysia. Ia pun khawatir akan jamu, yang dari zaman kapanpun kita merasa itu milik kita, keburu dipatenkan pihak asing.





 perkembangan Martha Tilaar Group dari masa ke masa:
§  Tahun 1970. DR. Martha Tilaar memulai usahanya di garasi kediaman orangtuanya, Yakob Handana, di Menteng, Jakarta Pusat.
§  Tahun 1972. Pembukaan salon kecantikan kedua DR. Martha Tilaar, yaitu Martha Griya Salon di Menteng. Di salon inilah, untuk pertama kalinya perawatan kecantikan tradisional berbasis tanaman herbal dan bisnis kecantikan dimulai.
§  Tahun 1977. PT Martina Berto didirikan oleh DR. Martha Tilaar bersama mitra usaha yaitu Bernard Pranata (almarhum) dan Theresia Harsini Setiady.
§  Tahun 1977. Bekerjasama dengan Theresia Harsini Setiady yang merupakan pendiri Kalbe Group, PT Martina Berto meluncurkan brand Sariayu sebagai produk kecantikan dan jamu modern.
§  Tahun 1981. PT Martina Berto mendirikan pabriknya sendiri di kawasan industri Pulogadung.
§  Tahun 1983. PT Martina Berto kembali mendirikan pabrik keduanya di Pulogadung.
§  Tahun 1983. Di tahun yang sama, PT SAI Indonesia yang sebelumnya adalah PT Sari Ayu Indonesia didirikan untuk mendukung PT Martina Berto dalam mendistribusikan produk-produk kosmetiknya.
§  Tahun 1988-1990. PT Martina Berto melahirkan merek-merek kosmetika baru seperti Cempaka, Jamu Martina, Pesona, Biokos Martha Tilaar, Caring Colours Martha Tilaar, dan Belia Martha Tilaar.
§  Tahun 1993-1995. Terjadi proses akuisisi oleh sejumlah perusahaan ke dalam PT Martina Berto.

§  Tahun 2001-2009. PT Martina Berto menambahkan merek-merek baru di segmen pasar berbeda, yaitu Professional Artist Cosmetics (PAC), Dewi Sri Spa, Jamu Garden dan sebagainya.
§  Tahun 1996. PT Martina Berto menjadi pabrik kosmetika pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikat mutu ISO 9001.
§  Tahun 1999. PT Martina Berto membeli saham Kalbe Group, dan sejak saat itu Kalbe Group sepenuhnya berada di bawah manajemen Martha Tilaar Group.
§  Tahun 2000. PT Martina Berto mendapatkan sertifikat ISO 14001.
§  Tahun 2010. Martha Tilaar Group memasuki usia 40 tahun.
§  Tahun 2011. PT Martina Berto menjadi PT Martina Berto Tbk.
§  Tahun 2011. Martha Tilaar Group terpilih menjadi salah satu dari 55 perusahaan dunia yang menjadi anggota Global Conpact Lead PBB di Davos, Switzerland.
§  Tahun 2012. PT Martina Berto Tbk menerima penghargaan sebagai Pioneer in Technology dari Kementrian Industri, yang diserahkan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
§  Tahun 2012. PT Martina Berto Tbk mendapat penghargaan dalam Asia Responsible Entrepreneurship Awards 2012 untuk kategori Green Leadership.

Kini, Martha Tilaar Group terdiri atas PT Martina Berto TbkPT Cedefindo (strategi pemasaran dan produksi), PT SAI Indonesia(distributor produk-produk Martha Tilaar Group), PT Martha Beauty Gallery (pelayanan konsultasi dan pendidikan kecantikan, seperti Puspita Martha School of Beauty), Martha Tilaar SpaCipta BusanaArt and Beauty Martha TilaarPT Cantika Puspa Pesona (manajemen waralaba domestik dan internasional untuk Martha Tilaar Salon Day Spa, Easter Garden Spa Martha Tilaar), PT Creative Style (perusahaan agensi periklanan), PT Kreasi Boga (agensi tenaga kerja), dan PT Mahligai Citra Bangsa (jasa wedding organizer dan produksi majalah).


Pilar
Terinspirasi oleh nilai dan budaya Timur, Founder dan Chairwoman Martha Tilaar Group, DR. (H.C.) Martha Tilaar, selalu memiliki semangat untuk terus menggali kekayaan alam dan budaya Indonesia untuk mempercantik wanita Indonesia dan dunia. Semangat tersebut dituangkan dalam 4 Pilar Martha Tilaar Group yang menjadi landasan dalam setiap kegiatan grup perusahaan dan setiap unit bisnis yang dijalankan Martha Tilaar Group.
Beauty Culture
Martha Tilaar Group begitu peduli pada kelestarian budaya Indonesia, dan kepedulian ini diwujudkan lewat penciptaan rangkaian warna tata rias Trend Warna Sariayu setiap tahun. Sejak tahun 1987, Trend Warna Sariayu telah menjadi barometer dan kiblat tata rias wanita Indonesia.
Selain dengan hadirnya Trend Warna Sariayu, peran serta dan dukungan Martha Tilaar Group dalam industri kreatif dan budaya Indonesia, salah satunya seperti yang terlihat pada ajang Jember Fashion Carnaval (JFC) dan penggunaan konsep SPA Indonesia sebagai sarana melepas lelah serta menyegarkan pikiran dan tubuh, menjadi wujud penerapan Beauty Culture.
Beauty Education
Martha Tilaar Group yakin, berbagi ilmu pada masyarakat yang tertarik pada dunia kecantikan menjadi salah satu upaya mempercantik wanita Indonesia dan dunia. Karena itu, Martha Tilaar Group terus berbagi pendidikan kecantikan dengan mendirikan lembaga belajar, mengadakan beauty class, hingga bekerjasama dengan instansi pendidikan dan pemerintah dalam memperluas wawasan masyarakat, khususnya wanita Indonesia, mengenai kecantikan alami.
Puspita Martha International Beauty School, diharapkan tidak hanya dapat menciptakan tenaga terampil profesional yang mampu menghasilkan pekerjaan bagi dirinya sendiri, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.Beauty Class yang meliputi langkah demi langkah tata rias yang baik dan benar, motivasi, kepribadian, tata busana, serta jiwaenterepreneurship. Martha Tilaar Group juga bekerjasama dengan Universitas Indonesia mendirikan Magister S2 Herbal UIagar Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam terbesar kedua setelah Brazil memiliki industri herbal yang maju dan menghasilkan devisa negara. Dan sejak tahun 2007 menyelenggarakan Martha Tilaar Innovatin Center (MTIC) Award yang bekerjasama dengan Kementrian Riset dan Teknologi dan didukung oleh Sariayu, yaitu sebuah penghargaan bagi kegiatan penelitian dan karya tulis mengenai riset berbahan alam yang bermanfaat bagi dunia kecantikan dan kesehatan, yang tetap memperhatikan prinsip-prinsip ramah lingkungan.

Beauty Green
Kecantikan sejati terpancar dari dalam hati. Dan salah satu wujud hati yang cantik adalah hati yang memiliki kepedulian pada lingkungan sekitar. Meyakini hal tersebut, Martha Tilaar Group pun berkomitmen untuk ikut menjaga dan melestarikan lingkungan hijau untuk kehidupan yang lebih baik denngan membangun Kampoeng Djamoe Organik (KaDO) pada tahun 1997.
KaDO merupakan sebuah lahan konservasi bagi tanaman obat, kosmetik, dan aromatik (TOKA) khas Indonesia yang dibangun di atas lahan hijau seluas 10 hektar di tengah kawasan industri Cikarang. Langkah visioner DR. (H.C.) Martha Tilaar terhadap lingkungan ini mendapat perhatian dari PBB dan mendapatkan pernghargaan dari United Nation Global Compact. Tidak hanya menjadi tempat wisata yang dapat dikunjungi masyarakat, KaDO juga memberikan Pelatihan Petani Organik Seluruh Indonesia dari seluruh provinsi Indonesia dan membekali petani dengan pendidikan dan praktek langsung mengenai organic farming, mulai dari pengolahan tanah, pembibitan, panen, hingga produksi dan pendistribusiannya.
Martha Tilaar Group juga mengimplementasikan Green Science. Green Science merupakan sebuah konsep dari produk Sariayu Putih Langsat yang mencakup 4 hal, yang memperhatikan kelestarian lingkungan, yaitu Green Resources (penggunaan bahan dasar alami), Green Development (proses pengembangan ramah lingkungan), Green Process ( proses produksi yang aman, efisien, dan ramah lingkungan), dan Green Output (hasil produk yang aman dan ramah lingkungan).
Martha Tilaar Group juga berkomitmen mengajak masyarakat untuk turut melakukan Pelestarian Bumi Bersama WWF Indonesia, di mana untuk setiap pembelian produk Sariayu Trend Warna, konsumen turut berkontribusi dalam pelestarian alam Indonesia.

Empowering Woman
Martha Tilaar Group memiliki program pemberdayaan wanita lewat beragam dukungan dan pelatihan, diantaranya melalui program Jamu Gendong yang memberi pelatihan bagi para wanita yang berprofesi sebagai penjual jamu gendong, programWanita Terampil Mandiri yang memberi pelatihan bagi para wanita di daerah pasca bencana, program Miss Indonesia yang merupakan ajang pencarian role model bagi generasi muda yang cantik, cerdas, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi, serta program Balisari Spa Training Center yang merupakan pusat pelatihan terapis spa profesional di kawasan Kuta, Bali, yang bertujuan memberdayakan wanita muda agar terhindar dari women trafficking yang banyak terjadi di daerah miskin dan tertinggal.

Nilai

NET - I3
Martha Tilaar Group mengembangkan manajemen perusahaan sesuai dengan fungsinya sebagai "Blanket Corporate Brand", yang menciptakan NET-I3. NET merupakan singkatan dari Natural (Alami), Eastern (Ketimuran), dan Technology (Teknologi), sedangkan I3 adalah singkatan untuk Icon (Ikon), Innovation (Inovasi), dan Intitution (Institusi).
Konsep NET terfokus pada keunikan brand dan konsep pengembangan bisnis yang dipengaruhi oleh nilai-nilai adat ketimuran dan didesain dengan penggunaan teknologi modern. Perusahaan ini yakin bahwa pengimplementasian konsep NET akan memberikan keuntungan dalam meningkatkan keuntungan kompetitif baik pada industri kosmetik lokal maupun global. Lebih dari itu, secara luas konsep ini bertujuan untuk memberi manfaat pada para pemegang saham, karyawan, konsumen, dan lingkungan.
Konsep I3 terfokus pada tiga elemen dasar masing-masing produk Martha Tilaar, yaitu Ikon, Inovasi, dan Institusi.
Ikon mengacu pada brand positioning Martha Tilaar sebagai ikon kecantikan, di mana citra DR. (H.C.) Martha Tilaar sebagai ikon wanita dalam dunia kecantikan tradisional dan mode, sekaligus sebagai seorang wanita karier serta tokoh terkemuka dalam dunia pendidikan dan kegiatan sosial diharapkan dapat menginspirasi masyarakat Indonesia.
Inovasi mengacu pada kemampuan melanjutkan pengembangan produk dan pelayanan dengan lebih baik, seperti yang telah dibuktikan oleh Martha Tilaar Group dalam menjaga kestabilan pemenuhan kepuasan terhadap lini produk di antara industri kosmetik, seperti Sariayu Martha Tilaar, Biokos Martha Tilaar, dan Dewi Sri Spa – Oil of Jawa Martha Tilaar.
Institusi mengacu pada kesuksesan Martha Tilaar Group sebagai brand kosmetik tradisional terdepan dengan profesionalisme tinggi, serta kualitas produk dan layanan yang terjamin.
Natural
“Kecantikan alami seseorang seperti bunga yang  meletupkan keunikan dan keindahan dari dalam, menciptakan penampilan elegan yang sempurna, dan memberi energi bagi dunia di sekitarnya.
Nilai Ketimuran “ Eastern Value”
“Kepulauan Indonesia kaya dengan keragaman flora yang saling terintegrasi  dengan kebudayaan eksotis dan peradaban kuno.

Teknologi
“Penggunaan teknologi modern mendukung para tenaga ahli dalam menuangkan beragam ide dan inovasi dalam penciptaan desain dan produk – produk kosmetik yang higienis dan berkualitas.


Filosofi Djitu
Manajemen Martha Tilaar Group, yaitu PT Martina Berto Tbk memiliki sebuah sebuah filosofi kebijakan yang dikenal dengan sebutan DJITU di dalam perusahannya. DJITU merupakan sebuah akronim dari Disiplin, Jujur, Inovatif, Tekun, dan Ulet. Filosofi ini berlaku bagi segenap karyawan untuk mencapai visi dan misi yang telah digariskan oleh perusahaan.

Disiplin
Menjadi sebuah sikap yang menunjukkan komitmen setiap karyawan dalam menepati waktu demi efisiensi jalannya setiap kegiatan dalam perusahaan.

Jujur
Dari sikap jujur para karyawannya, sebuah perusahaan dapat tumbuh menjadi sebuat perusahaan yang sehat dan mampu terus berkembang.
Inovatif
Karyawan dengan pola pikir yang inovatif dan sikap yang proaktif adalah aset berharga bagi perusahaan, yang penting untuk terus dijaga. Dari pola pikir inovatif inilah akan tercipta terobosan-terobosan baru dalam perusahaan.
Tekun
Sikap tekun dan selalu fokus dalam melakukan dan mengembangkan hal-hal yang berkaitan dengan tanggung jawab akan memungkinkan pencapaian target perusahaan sesuai waktu yang telah ditentukan, dan ketekunan juga akan meningkatkan kualitas karyawan.
Ulet
Mau bekerja keras, berkomitmen, dan gigih dalam menggali setiap tugas yang belum terselesaikan menunjukkan bahwa seseorang memiliki rasa tanggung jawab pada pekerjaannya. Hal ini penting bagi keberlangsungan dan kemajuan perusahaan.

Sumber Pustaka